Sabtu, 18 September 2010

Lebih Dekat Lebih Bersahabat



Foto : Muhammad Irham Fuady bersama Ayahanda dan Ibundanya di Pantai Lasiana, Kupang, Nusa Tenggara Timur, November 2009


Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, itulah sebuah pepatah yang mendasari tulisan ini untuk mengenal lebih jauh sosok pemilik blog ini. Muhammad Irham Fuady dilahirkan di Bengkulu pada 01 April 1990, anak ke-6 (enam) dari 6 (enam) bersaudara (4 laki-laki dan 2 perempuan) ini merupakan putra bungsu dari pasangan Djajusman MS dengan Eny Budi Astuti. Masa kecil Ady yang merupakan sapaan akrabnya dirumah atau Bejo yang merupakan sapaan akrabnya sejak masa SMA dan kuliah dihabiskan di 3 Kota. Dari lahir hingga berumur 3 tahun penulis hidup dan tinggal bersama keluarga di Kota Bengkulu, selanjutnya pada umur 3 sampai dengan 7 tahun tinggal di Jakarta Selatan dan di Jakarta Timur dan kemudian hingga saat ini tinggal di Kota Yogyakarta. Hidup nomaden membuat ia belajar tentang perbedaan kultur budaya dimasing-masing daerah tempat tinggalnya.

Pendidikan awal penulis dimulai dari SD N O7 Pagi Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan, selanjutnya berpindah ke SD N Pangkalanjati 3 Pondok Gede, Bekasi. Kelas 3 SD, penulis berpindah ke Kota Yogyakarta dan bersekolah di SD N Minomartani I Ngaglik Sleman. Lulus SD penulis melanjutkan studi di SMP N 2 Depok Sleman. Lulus SMP selama 3 tahun kemudian penulis melanjutkan studi di SMA N 2 Ngaglik Sleman, Sadar bahwa bersekolah dipinggir Kota Yogyakarta yang biasa dikatakan Sekolah Desa, tidak membuat penulis minder dan berkecil hati, namun tetap bersemangat bersekolah untuk menuntut ilmu dan termotivasi untuk membanggakan almamater SD, SMP dan SMA nya dulu dengan menggapai cita-citanya. Sempat diproyeksikan sebagai calon dokter oleh orang tuanya seperti kakak sulungnya (dr. Fiyosten Kusuma) penulis diarahkan oleh Ayahandanya untuk masuk ke jurusan IPA pada saat SMA. Namun penulis enggan dan lebih memilih jurusan IPS karena minatnya dibidang sosial-humaniora. Sempat terjadi silang pendapat dengan Ayahanda, penulis meyakinkan kepada Ayahandanya bahwa akan benar-benar belajar dan lebih berprestasi jika diizinkan memilih jurusan IPS, hal ini benar-benar dibuktikannya dengan menjadi Juara Umum Ujian Nasional SMA N 2 Ngaglik Tahun 2008 dengan menyabet 3 gelar.

Lulus SMA pada tahun 2008 penulis sempat bercita-cita menjadi seorang Taruna dan pernah mendaftar di Akademi Militer, Magelang serta Akademi Kepolisian, Semarang pada tahun 2008 dan 2009, namun gagal dan kurang mendapat persetujuan dari kedua orang tuanya. Dan akhirnya penulis diterima sebagai calon mahasiswa S1 Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Mungkin karena aspek keberuntungan secara bersamaan penulis juga diterima sebagai calon mahasiswa S1 Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM) Yogyakarta melalui jalur Ujian Tulis. Hingga saat ini penulis tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum UGM dan meninggalkan kesempatannya berkuliah di Fakultas Hukum UII. Merencanakan kelulusan sarjana pada Mei 2012 sosok yang gemar sepak bola dan futsal ini, berkeinginan untuk melanjutkan Studinya nanti di Magister Ilmu Hukum (LL.M) Fakultas Hukum UGM Yogyakarta atau Magister Hukum (MH) Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang.

Besar dikeluarga organisatoris dan keluarga persyarikatan Muhammadiyah membuat pemuda jomblo 20 tahun ini senang bergaul dan aktif beroganisasi. Semenjak remaja di lingkungan kampung tempat tinggalnya, dia telah mengikuti organisasi Karang Taruna dan Remaja Masjid, walaupun saat bersekolah ia tidak pernah mengikuti Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Kemampuan organisasinya mulai diasah saat menjadi mahasiswa, bermulai dari pendidikan dasar keorganisasian yang diterapkan di Dewan Mahasiswa JUSTICIA Fakultas Hukum UGM, ia mulai sadar bahwa menjadi mahasiswa tidak hanya belajar untuk kepentingan dan tanggung jawab terhadap diri sendiri tetapi juga ada kepentingan dan tanggung jawab terhadap orang lain yaitu keluarga dan masyarakat.

Mulai pertama kalinya mengasah kemampuan berorganisasi dari staff Biro Usaha Dana Bendahara Umum DEMA Justicia FH UGM dan mengikuti Latihan Kader I Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Hukum UGM yang merupakan organisasi mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia. Sedikit memiliki dasar keorganisasian bakat keorganisasian penulis semakin berkembang di HMI. Pada tahun 2009 ia dipilih menjadi anggota DPM KM UGM antar waktu dari Partai Sayang Mama (PSM) yang merupakan salah satu Partai Mahasiswa UGM. Saat Konggres PSM UGM ke-3 (tiga) Tahun 2009 penulis dipercaya oleh Ketua Umum terpilih sebagai Sekretaris Jenderal PSM UGM periode 2009-2010. Kemudian pada Pemilihan Raya Mahasiswa UGM tahun 2009 yang memilih Calon Presiden Mahasiswa, Calon Anggota DPM dan calon anggota DPF, penulis terpilih menjadi anggota DPM KM UGM Periode 2010 dan kemudian dipercaya menjadi salah satu unsur pimpinan DPM KM UGM sebagai Sekretaris Dewan DPM KM UGM mendampingi Suryo Kuncoroyakti (Ketua DPM KM UGM Periode 2010 dari Partai Srikandi UGM).

Setali tiga uang begitulah ibaratnya sang penulis yang senang berdiskusi ini kemudian juga dipercaya sebagai Ketua Umum HMI Komisariat Hukum UGM Periode 2010-2011 oleh peserta Rapat Anggota Komisariat (RAK) HMI Komisariat Hukum UGM ke- IX (Sembilan). Ia juga tercatat sebagai staff Pemantauan Hakim LSM Judicial Reform Institute (JURIST), LSM yang bergerak dibidang pemantauan peradilan. Penulis juga tidak melupakan dan meninggalkan organisasi mahasiswa pertamanya dulu dengan menjadi Kepala Divisi Internal Biro Hubungan Masyarakat DEMA Justicia FH UGM dalam Kabinet Mentari Peradaban. Karena keuletannya dibidang organisasi memberikan kesempatan kepadanya menjadi delegasi UGM dalam study banding kelembagaan dan keorganisasian ke Malaysia dan Singapura pada Oktober 2010.

Sosok yang bercita-cita menjadi seorang hakim peradilan umum atau peradilan tata usaha negara ini juga turut serta aktif dalam kegiatan kemasyarakatan seperti Sekolah Kerakyatan dan Desa Binaan yang merupakan salah satu program dari DEMA Justicia FH UGM, pemantau Pilpres 2009 dari Indonesia Parliamentary Center untuk wilayah Kabupaten Bantul, Yogyakarta serta mengikuti berbagai macam kepanitian dan seminar-seminar tingkat lokal, regional maupun nasional. Penulis yang suka mendengarkan dan melantunkan lagu Iwan Fals serta tembang kenangan ini merupakan sosok yang fleksibel dan humoris, sehingga membuat ia mudah bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Menulis dan membaca buku tentang biografi, politik dan hukum di Perpustakaan “Intan Pribadi” milik ayahandanya menjadi kegiatan tambahan disamping kuliah dan berorganisasi.

Pria lajang yang berencana akan mengambil konsentrasi Hukum Tata Negara pada tahun 2011 ini hidup dikeluarga yang besar, dinamis dan berlatar belakang berbagai macam disiplin ilmu mulai dari Kedokteran, Kehutanan-Pertanian, Ekonomi, Tehnik dan Hukum sehingga membuat cakrawala pikiran penulis terbuka tentang realita kehidupan saat ini. Pendidikan informal yang ia dapatkan dari Ayahanda, Ibunda, ke-5 (lima) kakaknya tentang pengalaman dan perjuangan hidup serta organisasi tentang manajerial dan problem solving membentuk karakternya sebagai seorang pemikir dan pejuang muda yang kritis-progresif merencanakan segala sesuatu terkait masa depannya secara matang dengan mempertimbangan berbagai macam aspek kemungkinan yang akan timbul terhadap suatu tindakan ataupun keputusan yang ia ambil.

Sosok yang memiliki semboyan “Kehormatan adalah dapat menjaga konsistensi terhadap apa yang telah diucapkan” ini merasa dirinya belum ada apa-apanya dan belum bisa berbuat apa-apa serta juga merasa sangat banyak kekurangan sehingga ia berniat untuk terus belajar mengenai ilmu-ilmu yang bermanfaat dan dinamika kehidupan saat ini dimanapun, dengan siapapun dan kapanpun. Penulis yang beralamat di Jln. Turi IV No. 8 Karang Asem Rt 16/12 Condong Catur Depok Sleman Yogyakarta ini mengucapkan “Salam kenal dan Salam kritis-progresif” kepada pembaca tercinta sekalian. Pembaca yang ingin berinteraksi dengan penulis dapat menghubunginya di 0856-4388-0002 atau 0878-3705-7750 atau add Facebook : Muhammad Irham Fuady atau follow Twitter : irhamfuady atau email : adhiebjo.fhugm@yahoo.co.id atau blog : adhiethenextleader.blogspot.com

Selasa, 14 September 2010

Irasionalitas Pembangunan Gedung Wakil Rakyat


Oleh : Muhammad Irham Fuady
(Sekretaris Dewan DPM KM UGM Periode 2010)

Beberapa saat yang lalu bahkan hingga saat ini kita masih mendengar tentang hingar bingar pembangunan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang mewah dan berkelas berbentuk huruf U terbalik yang melambangkan keanekaragaman berbagai kultur budaya yang ada di Indonesia. Ironis sekali dimana kehidupan setiap rakyat yang dirasa semakin hari semakin sulit ini, DPR sebagai bentuk representatif semua rakyat Indonesia ingin membangun gedung baru yang menghabiskan anggaran Rp. 1,6 Triliyun yang berasal dari uang rakyat. Lebih menyesakkan lagi gedung tersebut diwacanakan dilengkapi dengan berbagai fasilitas mewah dan nyaman seperti spa, panti pijat dan kolam renang.

Bagi setiap orang yang memperhatikan wacana seperti ini, dalam pikirannya pasti akan berkata “Apa para anggota dewan yang terhormat memiliki hati nurani ?”. Pertanyaan seperti ini pasti muncul karena dimana 31,02 juta jiwa rakyat Indonesia masih menderita dan berada dibawah garis kemiskinan, namun wakilnya malah ingin membangun gedung baru dengan berbagai macam fasilitas aneh. Seharusnya seorang wakil rakyat mengerti penderitaan yang sedang dialami oleh rakyat yang diwakilkannya. Jika dibandingkan dengan anggaran rutin pemerintah untuk hal-hal yang pokok dan penting tidak menghabiskan dana sebesar Rp 1,6 Triliyun, dana bantuan bencana alam hanya Rp. 348 Miliyar, dana pengembangan usaha mikro hanya Rp. 260 Miliyar, dana perbaikan gizi masyarakat hanya Rp. 393 Miliyar, dana jamsoskesmas hanya Rp. 1,3 Triliyun dll. Disini terlihat perbandingan jauh anggaran yang digunakan untuk membangun gedung tersebut.

Dalam pembangunan gedung baru DPR ini, pertama jika disinergikan dengan kondisi bangsa saat ini memang tidak relevan, walaupun memang kapasitas gedung DPR telah overcapacity dengan batas maximal 800 orang dan kini ditempati oleh 2500 orang. Setidaknya DPR lebih bijak dengan tidak membangun gedung baru dengan berbagai macam fasilitas aneh, cukup merenovasi gedung lama atau tetap membangun gedung baru tanpa diikuti oleh dibangunnya fasilitas yang aneh-aneh agar mencukupi ditempati oleh seorang anggota DPR, seorang asisten pribadi dan 5 orang staff dalam setiap ruangan yang luasnya direncanakan 120 Meter atau 4 x lipat luas ruangan saat ini (30 Meter).
Kemudian jika di sinergikan dengan kinerja anggota dewan yang terhormat saat ini, penulis rasa belum saatnya DPR membangun gedung baru yang dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas mewah dan perlu tijauan ulang yang mendalam karena bisa dikatakan kinerja anggota DPR saat ini mlempem, dimana pada tahun 2010 ini DPR merencanakan menyelesaikan 70 (tujuh puluh) Rancangan Undang-Undang (RUU), namun hingga bulan Juli 2010 baru 5 (lima) RUU yang diselesaikan. Memang kita dalam memandang sesuatu tidak boleh hanya dari 1 (satu) sisi. Jika ditelaah fungsi DPR tidak hanya dibidang legislasi yang membahas perundang-undangan tetapi juga ada fungsi controlling dan budgeting, tapi setidaknya DPR dapat menyeimbangkan keseluruhan tugas tersebut sehingga tercipta fungsi DPR yang ideal.

Ada opini bahwa pembangunan fasilitas mewah di gedung baru DPR seperti spa, panti pijat dan kolam renang merupakan sarana untuk meningkatkan kinerja dari anggota DPR. Hal itu jika dipikir-pikir ulang tidak rasional dan mengada-ada, buktinya gedung Parlemen Australia tanpa dilengkapi fasilitas mewah seperti spa, kolam renang dan panti pijat, para anggotanya dapat berkinerja dengan baik (Burhanudin Muhtadi). Hal itu menunjukkan bahwa tidak ada hubungan kausal langsung fasilitas yang lengkap menunjang kinerja, tergantung dari semangat, sikap dan perilaku anggota DPR atau kembali ke pribadi masing-masing anggota dewan, apakah memang berjiwa wakil rakyat atau bukan yang jika bersidang saja masih banyak yang membolos bahkan ada yang “Titip Absen” seperti halnya mahasiswa dalam perkuliahan. Pembangunan gedung baru DPR tersebut.banyak menuai kecaman baik itu dari dalam ataupun dari luar DPR. Beberapa anggota DPR angkat bicara ketika wacana ini mencuat dimasyarakat. Anehnya pada saat wacana ini mencuat di masyarakat baru para wakil rakyat bersuara seperti halnya bersuara mewakili rakyat.

Berita-berita tentang wakil rakyat kita memang tidak ada habisnya apalagi terkait masalah anggaran keuangan negara, mulai dari banyak anggota DPR yang menjadi tersangka korupsi, dana aspirasi desa yang besarannya mencapai Rp. 1 Miliyar per desa, rumah aspirasi bagi setiap anggota DPR yang setiap anggotanya memperoleh Rp. 200 Juta. Dan kini yang paling heboh gedung baru DPR dengan anggaran Rp. 1,6 Triliyun. Sebenarnya tidak hanya DPR saja yang sedang “berproyek”, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) melalui Panitia Urusan Rumah Tangga (PURT) DPD (ibarat BURT DPR) juga mempunyai rencana program pembangunan kantor perwakilan DPD disetiap daerah tingkat I yang menghabiskan anggaran Rp. 500 Miliyar dengan awal 13 wilayah provinsi sebagai percontohan pembangunan.

Seharusnya DPR dan DPD saat ini melakukan intropeksi diri, apakah yang dilakukan saat ini sesuai dengan keinginan dan aspirasi rakyat yang diwakilkannya atau itu hanya keinginan pribadi dan kelompok tertentu. Jangan terus hanya rakyat yang dikorbankan dan menderita demi kepentingan politik. Demikian tulisan ini dibuat dengan harapan bahwa DPR benar-benar membatalkan fasilitas mewah yang akan dibangun sesuai dengan apa yang dikatakan Ketua DPR RI, Marzuki Alie (Detik News, 1 September 2010) dan lebih mengefisien anggaran yang digunakan agar tidak terlalu membebani keuangan negara sesuai dengan Program yang dicanangkan oleh pemerintah penghematan dan pengefisienan anggaran. Sepenggal kalimat “Wakil Rakyat Seharusnya Merakyat” yang penulis kutip dari lirik lagu Iwan Fals berjudul “Wakil Rakyat” penulis rasa cukup mewakili keinginan dari rakyat Indonesia yang saat ini sebagian besar sedang menghadapi masalah sosial dan ekonomi dalam menanggapi wacana pembangunan gedung 32 lantai tersebut